Sekapur Sirih
Rotasi bumi merupakan pergerakan bumi pada sumbunya, sedangkan revolusi bumi adalah pergerakan bumi mengelilingi matahari. Kedua fenomena ini secara bersamaan menimbulkan berbagai gejala alam, antara lain gerak semu harian dan tahunan matahari, perbedaan panjang siang dan malam, serta perbedaan waktu di berbagai belahan bumi. Di wilayah khatulistiwa, seperti Indonesia, panjang siang dan malam relatif sama, sedangkan di daerah lintang tinggi seperti Norwegia dan Australia, perbedaannya sangat mencolok. Berdasarkan garis bujur dengan acuan kota Greenwich di Inggris, negara-negara yang terletak di sebelah barat mengalami perlambatan waktu, sedangkan yang berada di sebelah timur mengalami percepatan waktu. Indonesia sendiri terbagi ke dalam tiga zona waktu, yaitu Waktu Indonesia Barat (WIB), Waktu Indonesia Tengah (WITA), dan Waktu Indonesia Timur (WIT). Selain itu, rotasi dan revolusi bumi juga menyebabkan pembelokan arah angin serta arus laut, yang berimplikasi pada terjadinya perubahan musim. Di Indonesia, terdapat dua musim utama, yakni musim hujan dan musim kemarau, sedangkan di wilayah lain di dunia terdapat empat musim, yaitu musim semi, panas, gugur, dan dingin. Perubahan posisi bumi terhadap matahari juga memengaruhi munculnya perbedaan rasi bintang, yang menjadi dasar penyusunan kalender masehi.
Provinsi Lampung, yang dikenal dengan semboyan Sang Bumi Ruwa Jurai, merupakan salah satu wilayah Indonesia yang terletak di dekat garis khatulistiwa. Letak astronomis ini membawa banyak berkah, khususnya bagi kesuburan tanah dan keanekaragaman hayati flora dan fauna. Lampung juga dikenal sebagai daerah dengan keberagaman budaya dan adat istiadat yang tinggi. Nilai-nilai luhur seperti piil pesenggiri, sakai sambayan, nemui nyimah, dan nengah nyappur menggambarkan semangat kebersamaan, tolong-menolong, serta keterbukaan masyarakat Lampung terhadap keberagaman. Selain itu, kekayaan kuliner khas seperti Seruit mencerminkan kearifan lokal yang diwariskan lintas generasi.
Oleh karena itu, dalam Modul Digital Pembelajaran IPA SD/MI ini, akan dieksplorasi bagaimana perubahan posisi bumi terhadap matahari berkorelasi dengan lahirnya berbagai bentuk kebudayaan di daerah Lampung. Melalui model pembelajaran RADEC (Read, Answer, Discuss, Explain, and Create), mahasiswa diajak menelaah keterpaduan antara pengetahuan ilmiah dan pengetahuan lokal masyarakat dalam bingkai khazanah adat Sai Batin Lampung. Modul digital ini dirancang sebagai bahan ajar pendukung bagi mahasiswa semester V Program Studi PGMI yang sedang menempuh mata kuliah Pembelajaran IPA SD/MI. Harapannya, modul ini tidak hanya membantu mahasiswa memahami konsep rotasi dan revolusi bumi secara mendalam, tetapi juga menumbuhkan kreativitas, sikap ilmiah, serta kecintaan terhadap kearifan lokal daerahnya.
Wassalamu’alaikum wr.wb.
Bandung, Juni 2024
Penulis
